By: Daden Robi Rahman, Gontor
Barat malang, Barat kurang ajar. Mungkin itulah ungkapan yang pantas diberikan. Betapa tidak, Barat yang merupakan peradaban yang tumbuh dari kombinasi filsafat, nilai-nilai kuno Yunani Romawi, agama Yahudi Nasrani yang dimodifikasi bangsa Eropa ini telah menjadi 'kiblat' dunia. Sejak lama Kristen mendominasi sejumlah agama di wilayah ini. Tapi sekarang bohong kiranya kalau Barat dibangun oleh Kristen. Bahkan mungkin sebaliknya, justru Kristen telah dibentuk oleh Barat. Meskipun ukuran penduduknya masih didominasi Kristen, tapi sebenarnya Barat telah kembali kepada Yunani, karena barat telah berhutang jasa kepadanya yang telah memberi filsafat.
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pemikir muslim asal malaysia, memandang problem terbesar yang dihadapi dunia adalah hegemoni dan dominasi keilmuan sekular Barat. Hal tersebut dikarenakan bagi Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis, kebenaran absolute dinegasikan dan nilai-nilai relative diterima. Konsekuensinya adalah penegasian Tuhan dan akherat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia.
Kristen sebagai agama terbesar di barat, yang telah mendominasi peradaban sebelumnya hampir saja tidak berkutik dari hegemoni sekularisme hingga kharisma dan kegagahannya tunduk, tidak muncul ke permukaan. Dogma-dogma 'kitab suci' mereka pun terkotori infiltrasi kepentingan internal gereja dengan kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan pengetahuan modern. Terlebih terkoyak masyarakat sekular tercabik tak berdaya.
Katakanlah problematika homoseksualiatas. Dengan alasan Hak Asasi Manusia, homoseksualitas dianggap praktik manusiawi meskipun selama berabad-abad hal tersebut dinilai kotor, maksiat, dan dosa.






