Senin, 19 Agustus 2013

Perempuan menunggang Binatang dan Paus, Vatikan Roma

Perempuan menunggang Binatang dan Paus, Vatikan Roma

May 17, 2010 @ editor19 Comments

Perempuan menunggang Binatang dan Paus, Vatikan Roma
Perempuan menunggang Binatang

“Perempuan menunggang Binatang” adalah salah satu visi yang dilihat oleh Yohanes pada saat ia diasingkan di pulau Patmos sekitar tahun 95 AD. Dalam pengasingan/pembuangannya di pulau Patmos, Yohanes telah mendapatkan visi-visi profetik yang diberikan oleh Tuhan Yesus sendiri kepadanya. Kumpulan visi-visi profetik ini disalin oleh Yohanes dan sekarang kita kenal dengan nama “Kitab Wahyu” atau “The Revelation book” atau “The Apocalypse book”.
“Perempuan menunggang Binatang” ini akan kita temukan dalam Wahyu 17.
Wahyu 17:3 KJV.
“So he carried me away in the spirit into the wilderness: and I saw a woman sit upon a scarlet coloured beast, full of names of blasphemy, having seven heads and ten horns.”
“Dalam roh aku dibawanya ke padang gurun. Dan aku melihat seorang perempuan duduk di atas seekor binatang yang merah ungu, yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Binatang itu mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk.”
Siapakah identitas dari “woman” ini?
Siapakah identitas dari “the beast” ini?

Homoseksualitas: Persembahan Barat dan Gereja untuk Dunia

 


By: Daden Robi Rahman, Gontor
Barat malang, Barat kurang ajar. Mungkin itulah ungkapan yang pantas diberikan. Betapa tidak, Barat yang merupakan peradaban yang tumbuh dari kombinasi filsafat, nilai-nilai kuno Yunani Romawi, agama Yahudi Nasrani yang dimodifikasi bangsa Eropa ini telah menjadi 'kiblat' dunia. Sejak lama Kristen mendominasi sejumlah agama di wilayah ini. Tapi sekarang bohong kiranya kalau Barat dibangun oleh Kristen. Bahkan mungkin sebaliknya, justru Kristen telah dibentuk oleh Barat. Meskipun ukuran penduduknya masih didominasi Kristen, tapi sebenarnya Barat telah kembali kepada Yunani, karena barat telah berhutang jasa kepadanya yang telah memberi filsafat.
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pemikir muslim asal malaysia, memandang problem terbesar yang dihadapi dunia adalah hegemoni dan dominasi keilmuan sekular Barat. Hal tersebut dikarenakan bagi Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis, kebenaran absolute dinegasikan dan nilai-nilai relative diterima. Konsekuensinya adalah penegasian Tuhan dan akherat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia.
Kristen sebagai agama terbesar di barat, yang telah mendominasi peradaban sebelumnya hampir saja tidak berkutik dari hegemoni sekularisme hingga kharisma dan kegagahannya tunduk, tidak muncul ke permukaan. Dogma-dogma 'kitab suci' mereka pun terkotori infiltrasi kepentingan internal gereja dengan kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan pengetahuan modern. Terlebih terkoyak masyarakat sekular tercabik tak berdaya.
Katakanlah problematika homoseksualiatas. Dengan alasan Hak Asasi Manusia, homoseksualitas dianggap praktik manusiawi meskipun selama berabad-abad hal tersebut dinilai kotor, maksiat, dan dosa.

Kamis, 08 Agustus 2013

Bumi Mendekati Titik Kritis Global

 


Bumi diambang kritis, pertumbuhan populasi manusia dan berapa banyak sumber daya yang telah digunakan setiap orang, dianggap sebagai sumber penyebab titik kritis global.
Sekelompok ilmuwan dari seluruh dunia saat ini sedang memperingatkan besarnya pertumbuhan penduduk, kerusakan luas ekosistem alam, dan perubahan iklim yang dapat mendorong Bumi ke arah perubahan permanen biosfer, titik kritis global akan memiliki konsekuensi yang merusak persiapan dan mitigasi. Secara biologis akan menjadi dunia baru pada saat itu.

Penelitian ini dirilis situs resmi Universitas California, Berkeley “Scientists uncover evidence of impending tipping point for Earth Juni tahun ini.

Penelitian Titik Kritis Global

Menurut Anthony Barnosky, profesor biologi integratif dari Universitas California, Berkeley, dan penulis makalah jurnal Nature edisi 7 Juni, data menunjukkan bahwa akan ada penurunan keanekaragaman hayati dan dampak buruk terhadap perikanan, pertanian, hasil hutan dan air bersih, yang bisa terjadi hanya dalam beberapa generasi. Ilmuwan membandingkan dampak biologis perubahan global masa lalu dengan proses yang berlangsung hari ini, dan menilai bukti masa mendatang.